Tak Hanya Dimakan, Inilah Manfaat Lain Mr. Potato

Oleh: Nurul Amalia (25)


Indonesia merupakan negara yang memiliki tanah subur, sehingga cocok ditanami berbagai komoditas sayur dan buah-buahan seperti kentang yang tumbuh subur di tanah nusantara ini. Salah satu daerah penghasil kentang terbesar di Indonesia adalah Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah, yang mampu memproduksi 1,28 juta ton pada tahun 2018, sedangkan didunia, negara penghasil kentang terbesar adalah China, dengan produksi kentang sebesar 99,147 juta ton pada tahun 2017. Untuk negara penghasil kedua adalah India dengan produksi sebesar 48,605 juta ton.
Pada umumnya masyarakat mengetahui kentang hanyalah makanan yang diproduksi dalam bentuk gorengan atau rebus. Kentang merupakan sayuran yang memiliki kandungan karbohidrat tinggi. Hampir 90% dari sayuran ini mengandung karbohidrat yang dikenang oleh masyarakat sebagai penyebab kenaikan berat badan. Berbeda halnya dengan ilmuwan dari Hebrew University of Jerussalem yang bernama Haim Rabinowitch. Rabinowitch berhasil menemukan manfaat lain dari Mr. Potato atau yang bernama lain Solanum Tuberosum ini. Dengan penelitiannya, Rabinowitch berhasil menemukan pengganti alternatif listrik yang bisa digunakan di desa terpencil yang jauh dari jangkauan listrik untuk memerangi rumah-rumah di desa tersebut.
Pada awalnya, penemuan ini ditemukan oleh Hugi Gulvani pada tahun 1780. Saat itu ia menggabungkan batang logam ke kaki katak. Kaki katak tersebut ototnya mulai kejang. Galvani menyebut dirinya telah menemukan sumber energi listrik dari jaringan makhluk hidup yang dinamai dengan “listrik hewan”.

Akhirnya dengan pengembangan penemuan dari Hugi Galvani, Rabinowitch dan rekan-rekannya berinovasi merebus kentang lalu memotong kentang menjadi empat bagian dan menempelkan dua kepingan logam pada kedua sisi potongan kentang. Mereka berpendapat bahwa kentang yang direbus menghasilkan tegangan listrik sepuluh kali lebih tingi daripada kentang yang masih mentah. Dengan merebus kentang dapat mengubah sifat-sifat jaringan yang ada dalam kentang sehingga lebih meningkatkan produksi elektron pada kentang saat dijepit dengan elektroda atau lempeng logam untuk memudahkan mengalirkan arus listrik. Karena pada dasarnya logam sangat kuat dalam menghantarkan arus listrik. Memang pada awalnya ide Rabinowitch tampak aneh karena kentang hanyalah sayuran yang berkarbohidrat pada umumnya. Namun perlu diketahui bahwa kentang juga memiliki kandungan zat asam yang dapat menghasilkan elektron. Melalui kepingan logam, zat asam pada kentang membentuk reaksi kimia dengan cara menyalurkan kepingan logam menggunakan bahan-bahan yang ada agar energi listrik bisa muncul. Bahkan Rabinowitch mengemukakan bahwa 1 butir kentang dapat menerangi 1 kamar dalam 40 hari.
Tak hanya Rabinowitch yang terinspirasi oleh Galvani. Adapun seorang profesor fisika di Royal School of Como bernama Conte Alessandro Gluseppe Antonio Anastasio Volta yang merupakan rekan dari Galvani, mencoba membuat baterai dengan menggunakan kertas yang direndam pada air garam.
Menurut analisa sebutir baterai kentang rebus dengan elektroda seng dan tembaga berhasil menghasilkan sumber energi listrik sekitar US $9 (Rp. 118.000) per Kwh, sedangkan sebutir baterai 1,5 volt AA Alkaline berharga US $49 per Kwh. Ini membuktikan bahwa baterai kentang lebih murah 1/50 daripada baterai pada umumnya. Bahkan baterai kentang lebih murah 1/6 dari lampu minyak yang digunakan pada negara-negara berkembang.
Diharapkan penemuan baterai kentang ini dapat bermanfaat untuk masyarakat yang berada jauh dari sambungan arus listrik. Selain itu, sebagai bukti semakin berkembangnya teknologi alami pengganti sumber energi listrik.


Komentar

Postingan Populer

Translate

Total Tayangan Halaman