"Banyuwangi" Surga Indonesia, Surga Dunia
Oleh: Sandy Mahesa Yudha Mahendra (35)
The
Sunrise of Java sebutan yang
cukup terkenal untuk menggambarkan kota paling ujung timur Pulau Jawa,
Banyuwangi. Banyuwangi merupakan kabupaten yang memiliki luas 5.872 km persegi,
yang membuatnya menjadi kabupaten terluas di Jawa Timur. Uniknya keadaan
geografis kota Banyuwangi yang diapit oleh laut dan gunung menjadikan sejuta
pesona keindahan alam yang memanjakan mata untuk dinikmati bersama. Kawah Ijen,
Pantai Plengkung dan Pantai Sukomade yang dikenalkan pemerintah daerah sebagai
kawasan Triangle of Diamond.
Tujuannya agar masyarakat setempat bisa menyadari bahwa Banyuwangi memiliki
potensi wisata alam yang tak kalah memesona dibanding dengan daerah lain.
Tak hanya dikenal akan keindahan alam yang begitu
melimpah, kota ini juga dikenal dengan
seni dan budayanya yang tak kalah menarik perhatian wisatawan domestik maupun
manca negara. Sebagai sebutan kota yang juga disebut Kota Gandrung, Banyuwangi
memiliki beraneka ragam seni khas yang membuat yang memesona, yang kemudian
turut menjadikan kota ini sebagai kota seni. Tari gandrung juga merupakan salah
satu dari jenis tarian tradisional yang berasal dari kota ini. Kata “gandrung”
diartikan sebagai terpesonanya masyarakat Banyuwangi kepada Dewi Sri sebagai
Dewi Padi yang membawa kesejahteraan masyarakat.
Banyuwangi juga memiliki suku asli yakni suku Osing.
Masyarakat suku Osing merupakan masyarakat yang menyatakan dirinya sebagai
masyarakat yang bukan berasal dari Jawa maupun dari Bali. Hal ini ditandai dari
kata “sing” yang berarti tidak. Namun dalam silsilah sejarah yang panjang,
masayarakat Osing adalah hasil perpaduan dari etnis Jawa, Madura dan Bali.
Berbicara tentang masyarakat Osing, mereka memiliki
ritual adat tersendiri. Contohnya seperti seblang. Seblang ialah upacara adat
masyarakat Osing yang hanya bisa dijumpai di dua desa yakni Desa Bakungan dan
Olehsari yang betempat di Kecamatan Glagah Banyuwangi. Tujuan dari ritual ini
adalah sebagai bersih desa dan tolak bala, dengan harapan desa lebih aman dan
tentram. Dua ritual ini diselenggarakan dengan waktu yang berbeda. Seblang
Olehsari diselenggarakan satu minggu setelah Idul Fitri dengan penari yang
masih gadis, sedangkan Seblang Bakungan diselenggarakan seminggu setelah Idul
Adha dengan penari yang sudah menopouse.
Banyuwangi juga memiliki alat musik tradisional yaitu
gamelan. Bentuk gamelan Banyuwangi terbilang khas meskipun gamelan masih bagian
dari budaya Jawa. Perbedaan gaya gamelan Jawa, gamelan Banyuwangi berirama
cepat dan suaranya keras, sekilas mirip gamelan Bali. Gamelan ini biasanya
digunakan untuk mengiringi tari gandrung dalam acara pementasannya.
Kota ujung timur Pulau Jawa ini juga mempunyai makanan
khas daerah yang memanjakan lidah penikmat kuliner nusantara. Bermacam-macam
masakan yang dapat dijumpai di Banyuwangi contohnya sego tempong. Dinamakan
‘tempong” karena berasal dari sambal yang menjadi ciri khas dari masakan ini
dan mampu menghipnotis si pemakan seakan-akan ditampar. Nasi tempong ini pada
umumnya sekilas mirip dengan nasi pada umumnya karena terdiri dari nasi, lauk
pauk, dan juga sayur mayur yang sudah dimasak. Perbedaannya dengan nasi lainnya
yaitu terletak pada bumbunya yang khas dan lezat. Makanan lain yang tak kalah
populer adalah pecel pitik. Makanan ini biasanya dihidangkan saat ada acara
khusus seperti acara adat. Adapun isi menu pecel pitik ini adalah nasi putih, ada
lauk yang telah dibumbui dengan rempah-rempah yang khas, sehingga terlihat
kecoklatan, dan ditambahi irisan timun segar. Adapun makanan lainnya yang tak
kalah populer ialah rujak soto. Makanan khas Banyuwangi yang segar dan unik
karena makanan satu ini terdiri dari rujak yang manis dan dicampur dengan kuah
soto yang gurih.



Komentar
Posting Komentar