Cara Menjadi Anak yang Baik di Era Millenial
Oleh: Ahmad Faishal Ardhi (01)
| Foto: Rizqi Hasan, Idul Fitri 1440 H |
Akhlak merupakan satu hal penting yang ada dalam diri
manusia. Setiap orang memandang diri orang lain tidak melalui jabatannya,
kekayaannya, dan keturunannya, entah dia berasal dari ningrat atau bukan. Akan
tetapi, seseorang memandang diri orang lain melalui tata krama.
Akhlak sangat penting dalam kehidupan sehari-hari.
Akhlak bagaikan pakaian dalam rohani kita. Apabila pakaian seperti baju,
celana, dan sepatu adalah pakaian jasmani, maka akhlak seperti sopan santun,
menyapa, dan saling hormat merupakan pakaian rohani kita. Akhlak merupakan
wadah dalam agama, hal ini sesuai dengan sabda Nabi Muhammad SAW, “Sesungguhnya
akhlak adalah wadah agama”. Jadi, agama kita tergantung pada tindak-tanduk kita.
Apabila kita kita melihat kondisi saat ini, yaitu pada
zaman millenial ini, atau lebih tepatnya zaman modern ini, seolah-olah akhlak
sudah hampir seperti barang kuno, hampir tidak digunakan dalam kehidupan
sehari-hari. Namun, apabila kita melihat lebih dalam lagi, barang kuno juga
memiliki nilai estetik, begitupun dengan akhlak.
Anak-anak generasi millenial saat ini lebih suka
melawan atau membantah perkataan orang tuanya, dan mereka menganggap jika
mereke bisa membantah orang tua atau yang lebih tua, maka itu mereka anggap
keren. Selain itu, mereka juga lebih suka menindas yang lebih kecil, seperti
suka menyuruh, suka tampil sok menakutkan, mem-bully, dan sebagainya. Padahal dalam hal ini Rasulullah SAW juga
pernah bersabda, “Tidaklah mereka itu golonganku apabila ia tidak mengasihi
yang masih kecil dan menghormati yang lebih tua”.
Dalam hal ini, ada beberapa langkah untuk menerapkan
tata krama dalam kehidupan sehari-hari, di antaranya sebagai berikut:
1.
Membiasakan
menmanggil yang lebih tua dengan sebutan Mas,
Pak, Cak, Om, dan lain-lain. Kemudian memanggil yang lebih muda dengan
sebutan Dik. Memang hal ini hanya hal
yang remeh. Namun, apabila kita bisa mengaplikasikannya dalam kehidupan
sehari-hari, niscaya hidup kita akan semakin damai atau nyaman untuk dijalani.
2.
Membungkuk apabila
lewat di depan orang yang lebih tua. Hal ini juga menjadi tradisi turun-temurun
nusantara pada zaman dahulu. Hal ini menunjukkan rasa hormat kita terhadap
orang yang kita lewati. Membungkuk di depan orang yang lebih tua tidak akan
membuat harga diri kita menjadi rendah. Namun sebaliknya, kita akan lebih
dihormati dan disayangi oleh semua orang yang ada di sekitar kita. Hal ini akan
lebih baik jika kita lakukan kepada semua kalangan, baik itu dari kalangan
menengah ke bawah, seperti orang miskin, dan kalangan menengah ke atas seperti
pejabat.
3.
Suka berbagi.
Dalam hal berbagi, kita tidak harus berbagi makanan, minuman, camilan, atau
sebagainya. Tetapi bisa juga dengan senyuman, support atau dukungan, berbagi pengalaman, dan lain-lain. Dalam hal
ini, kita akan semakin dihargai dan kita bisa saja memperoleh timbal baliknya,
atau yang lebih besar dari itu. Meskipun demikian, kita tidak boleh
mengharapkan timbal balik dari orang yang kita beri sesuatu ini, akan tetapi
kita harus memiliki niat yang ikhlas dan apabila kita mendapatkan timbal
baliknya, itu merupakan bonus rezeki yang diberikan Allah kepada kita.
4.
Kita apabila
sedang bertamu kepada teman atau saudara kita, hendaknya kita mengucapkan salam
terlebih dahulu, dan disarankan posisi tubuh kita menghadap kiri atau kanan
pintu. Hal ini merupakan salah satu adab agar kita tidak disangka mencuri atau
memiliki niat jahat lainnya. Kita juga harus menjaga adab saat duduk di kursi
rumah tempat kita bertamu. Kita tidak dianjurkan untuk menempatkan salah satu
kaki kita di atas paha kita. Hal ini sangat tidak enak untuk dipandang bagi
pemilik rumah, maka kita sebaiknya duduk dengan sopan.
5.
Apabila kita
sedang dijamu, hendaknya kita kita menerima jamuan tuan rumah dengan senang
hati, malah yang lebih bagus kita disarankan untuk mendoakan hal yang baik
kepada tuan rumah agar terjadi hal yang baik sebab jamuan yang diberikan kepada
kita. Kita dilarang untuk menanyakan apa yang tidak ada dalam jamuan tersebut
karena hal ini bisa saja membuat tuan rumah sedikit kecewa dengan jamuannya.
Apabila kita dipersilakan unntuk makan, maka sebaiknya kita segera memakannya
dan tidak menundanya.
6.
Dalam berbicara,
kita wajib bicara sesuatu yang baik saja. Kita dilarang berbicara kotor apalagi berbohong. Dengan tutur kata
yang baik, kita akan semakin dihargai oleh orang di sekitar kita. Akan tetapi,
apabila kita berkata kotor ataupun berbohong kita akan dijauhi oleh semua orang
yang ada di sekitar kita. Berbicara baik juga mencerminkan hati kita, apabila
baik tutur kata kita, maka baik pula hati kita. Begitupun sebaliknya, apabila
buruk perkataan kita, maka hati kita juga buruk.
Itulah beberapa langkah yang dapat kita lakukan agar
menjadi anak yang baik di era milenial ini. Marilah kita gunakan akhlak yang
baik dengan cara menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari kita. Dengan
berakhlak mulia, kita akan menjadi teladan yang baik bagi lingkungan di sekitar
kita dan keberadaan kita akanmenjadi penyejuk bagi semua orang di sekitar kita.
Selain itu, kita bisa menjadi inspirasi ataupun penerang bagi akhlak para
remaja yang saat ini sedang berada di ambang kepunahan dan kita menjadi orang
yang bermanfaat di mana pun dan kapan pun. Kita juga akan menjadi seseorang
yang berguna bagi seluruh kalangan yang ada di sekitar kita.


Komentar
Posting Komentar